Ruwah: Celah Antara Rajab dan Ramadhan

Home / Kopi TIMES / Ruwah: Celah Antara Rajab dan Ramadhan
Ruwah: Celah Antara Rajab dan Ramadhan Ach Dhofir Zuhry.

TIMESMANADO, JAKARTA – Sya'ban atau Syakban secara harfiyah bermakna celah, tangga atau jalan di antara dua tebing (Rajab dan Ramadhan). Tangga bernama sya'ban tak lain adalah latihan untuk kita menyambut bulan Puasa.

Bulan kedelapan dalam penanggalan hijriyah ini kadang juga dimaknai 'pemisahan', disebut demikian karena orang-orang Arab pagan berpencar dan berpisah pada bulan ini untuk mencari air.

Sementara itu, di Jawa--atas jasa Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma (ꦯꦸꦭ꧀ꦠꦤ꧀ꦲꦒꦸꦁꦲꦢꦶꦦꦿꦧꦸꦲꦚꦏꦿꦏꦸꦱꦸꦩ) w. 1645--bulan Syakban dikenal dengan bulan Ruwah, dari kata arwah. Mengapa? Karena lazimnya orang Jawa punya tradisi menziarahi makam atau ruh-arwah leluhur dan ulama-ulama mereka (nyekar, atau tabur bunga dan kirim doa) di makam para leluhur, para pendahulu, wali dan pahlawan. Celah inilah yang dengan cerdas diisi dengan menapaktilasi perjuangan para leluhur bangsa. Ini khas Nusnatara. 

Kita tahu bahwa Sultan Agung menyatukan kalender Nusantara, yakni tahun Saka yang bercorak Hindu-Budha dengan kalender Hijriyah atas inisiasi Sayyidina Umar bin Khattab selaku khalifah kedua, yang dihitung berdasarkan hijrahnya Nabi Muhammad Saw ke Yatsrib atau Madinah. 

Perubahan kalender di Jawa itu dimulai hari Jum’at Legi, tanggal 1 Sura tahun Alip 1555 bertepatan dengan tanggal 1 Muharam tahun 1043 Hijriah, atau tanggal 8 Juli 1633. Kebijakan Sultan Agung itu dipuji sebagai tindakan seorang muslim dengan kemahirannya yang tinggi dalam ilmu falak. Kalender Sultan Agung adalah suatu karya adiluhung bagi peradaban Nusnatara.

Adapun tradisi dan ajaran untuk membaca Yasin dan doa pada pertengahan Syakban sebagai naiknya catatan amal umat manusia, tetap dilestarikan di Indonesia, khususnya di kalangan Nahdliyyin. 

Di malam nisfu Sya’ban kita berdoa kepada Allah untuk panjang umur, murah rezeki, dan tetap iman. Kita juga biasanya membaca 3 kali Surat Yasin di sela doa tersebut. Sayyid Utsman bin Yahya menyebutkan doa berikut ini yang dibaca saat malam nisfu Sya’ban.

  اللَهُمَّ يَا ذَا المَنِّ وَلَا يُمَنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ يَا ذَا الطَوْلِ وَالإِنْعَامِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ ظَهْرَ اللَّاجِيْنَ وَجَارَ المُسْتَجِيْرِيْنَ وَمَأْمَنَ الخَائِفِيْنَ.
  اللَهُمَّ إِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِي عِنْدَكَ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقِيًّا أَوْ مَحْرُومًا أَوْ مُقْتَرًّا عَلَيَّ فِي الرِزْقِ، فَامْحُ اللَّهُمَّ فِي أُمِّ الكِتَابِ شَقَاوَتِي وَحِرْمَانِي وَاقْتِتَارَ رِزْقِي، وَاكْتُبْنِي عِنْدَكَ سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ فَإِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الحَقُّ فِي كِتَابِكَ المُنْزَلِ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّكَ المُرْسَلِ "يَمْحُو اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الكِتَابِ" وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ

Artinya, “Wahai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemberi segala kekayaan dan segala nikmat. Tiada tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut.

“Wahai Tuhanku yang maha pemberi, engkau tidak diberi. Wahai Tuhan pemilik kebesaran dan kemuliaan. Wahai Tuhan pemberi segala kekayaan dan segala nikmat. Tiada tuhan selain Engkau, kekuatan orang-orang yang meminta pertolongan, lindungan orang-orang yang mencari perlindungan, dan tempat aman orang-orang yang takut." (Dari kitab Maslakul Akyar karya Mufti Betawi Sayyid Utsman bin Yahya, hlm 79-80) 

Semoga dengan keberkahan bulan Syakban atau bulan ruwah, serta dengan bertawasul menziarahi arwah para leluhur, para resi dan begawan Nusantara ini, wabah dan segala kesulitan yang melanda Negeri kita dan seluruh masyarakat dunia akan segera lenyap. Alfatehah untuk semua leluhur bangsa Indonesia.

 

*) Penulis adalah Ach Dhofir Zuhry

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*) Redaksi berhak tidak menanyangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com